Kota Yang Memiliki Jembatan Ampera

Posted on

Kota Yang Memiliki Jembatan Ampera – 2°59′30″BT 104°45′49″BT / 2.9917°LS 104.7635°BT / -2.9917; 104.7635 Koordinat: 2°59′30″LS 104°45′49″L / 2.9917°LS 104.7635°L / -2.9917; 104.7635

Jembatan Ampera (huruf Jawi: ا) (Amanat Penderitaan Manusia) adalah sebuah jembatan di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Jembatan Ampera yang menjadi semacam simbol kota ini terletak di tengah kota Palembang, menghubungkan wilayah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Jembatan Ampera adalah ikon paling terkenal di kota Palembang.

Kota Yang Memiliki Jembatan Ampera

Panjang jembatan 1177 m, lebar 22 m (bagian tengah 71,90 m, berat 944 ton dan dilengkapi pendulum 500 ton), semua bagian tengah dapat diangkat sehingga kapal besar dapat lewat, tetapi karena 1970 bagian tengah tidak bisa lagi dihapus. Bandul pemberat dibongkar pada tahun 1990 karena dikhawatirkan berbahaya. Ketinggian jembatan 11,5 m di atas permukaan air, tinggi menara 63 m dari permukaan tanah dan jarak antar menara 75 m.

Panduan & Tips Liburan Seru Ke Palembang

Dan untuk menyatukan dua daratan kota Palembang “Seberang Ulu dan Seberang Ilir” dengan sebuah jembatan, sebenarnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang, tahun 1906. Ketika jabatan walikota Palembang dijabat oleh Le Cocq de Ville, tahun 1924. , ini muncul lagi dan dilakukan berkali-kali, upaya untuk mewujudkannya. Namun sebelum masa jabatan Le Cocq berakhir, bahkan ketika Belanda meninggalkan Indonesia, proyek tersebut tidak pernah terealisasi.

Pada masa kemerdekaan, gagasan itu muncul kembali. DPRD Kota Peralihan Palembang kembali mengusulkan pembangunan jembatan pada waktu itu, yang disebut Jembatan Musi mengacu pada nama Sungai Musi yang dilalui, dalam rapat paripurna yang berlangsung pada 29 Oktober 1956. Usulan ini sebenarnya cukup nekat karena anggaran yang ada di Kota Palembang akan digunakan sebagai modal awal, hanya sekitar Rp30.000,00. Pada tahun 1957 dibentuk panitia pembangunan yang terdiri dari Penguasa Perang Kodam IV/Sriwijaya Harun Sohar dan Gubernur Sumatera Selatan H.A. Bajingan. Pendampingnya adalah Walikota Palembang, M. Ali Amin dan Indra Caya. Tim ini mendekati Bung Karno untuk mendukung rencana tersebut.

Upaya yang dilakukan Pemprov Sumsel dan Kota Palembang yang didukung penuh oleh Kodam IV/Sriwijaya itu kemudian membuahkan hasil. Bung Karno kemudian menyetujui usulan pembangunan tersebut. Karena jembatan ini rencananya akan dibangun dengan masing-masing tahap di kawasan 7 Ulu dan 16 Ilir, yang berarti posisinya di tengah, Bung Karno memberikan syarat. Artinya, penempatan boulevard atau taman terbuka di kedua ujung jembatan. Perusahaan ditunjuk untuk melaksanakan pembangunan tersebut, dengan ditandatanganinya kontrak pada tanggal 14 Desember 1961 dengan harga USD 4.500.000 (saat itu USD 1 = Rp. 200,00).

Pembangunan Jembatan Ampera dikonsentrasikan pada kawasan bawah yang merupakan kawasan pusat kota, khususnya kawasan Ilir 16. Pada masa pembangunan Jembatan Ampera banyak bangunan peninggalan Belanda yang hancur, salah satunya adalah pusat perbelanjaan terbesar. di Matahari atau Dezon, Office of Electricity (OGEM) dan bank ESCOMPTO. Satu-satunya bangunan peninggalan Belanda yang tidak hancur adalah menara air atau water tower yang kini digunakan sebagai kantor walikota. Di bagian hulu, banyak bangunan tempat tinggal juga hancur.

Jembatan Ampera, Ikon Kebanggaan Kota Tertua Di Indonesia

Pembangunan jembatan ini dimulai pada April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya konstruksi diambil oleh Dana Reparasi Perang Jepang. Tidak hanya biaya, jembatan ini juga menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.

Pertama, jembatan ini, yang disebut Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk terima kasih kepada presiden pertama Republik Indonesia. Bung Karno sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan masyarakat Palembang untuk mendapatkan jembatan di atas Sungai Musi.

Peresmian penggunaan jembatan tersebut dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan tersebut. Saat itu, itu adalah jembatan terpanjang di Asia Tenggara.

Setelah kerusuhan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan diubah menjadi Jembatan Ampera.

Fakta Menarik Tentang Jembatan Ampera Palembang

Sekitar tahun 2002, terjadi diskusi untuk mengembalikan nama Bung Karno sebagai nama jembatan Ampera ini. Namun, usulan ini tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan sebagian masyarakat.

Sebagai permulaan, badan jembatan bagian tengah, belakang dan depan ini bisa diangkat ke atas agar tiang yang lewat di bawah tidak tersangkut di badan jembatan. Bagian tengah jembatan dapat dinaikkan dengan cara mekanis, dua pendulum dengan berat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan lepas landas sekitar. 10 meter per menit dengan total waktu yang dibutuhkan untuk menaikkan jembatan sepenuhnya dalam waktu 30 menit.

Saat bagian tengah jembatan dinaikkan, kapal dengan lebar 60 meter dan tinggi maksimum 44,50 meter dapat melewati Sungai Musi. Jika bagian tengah jembatan tidak dinaikkan, tinggi maksimal kapal yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.

Sejak tahun 1970, aktivitas naik turun di tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi. Pasalnya, waktu yang dibutuhkan untuk mendirikan jembatan tersebut dinilai menghambat lalu lintas di atasnya.

Wisata Palembang Kota Kelahiran Dian Pelangi

Pada tahun 1990 dua pendulum pemberat di menara jembatan ini diturunkan untuk mencegah kedua beban tersebut jatuh.Palembang, jika ditanya apa yang diketahui tentang kota ini, sebagian besar jawaban pasti akan menyebut Jembatan Ampera. Setiap kota memiliki ikon khusus yang membuatnya lebih mudah dikenali, sekaligus menjadi ciri khas kota tersebut. Seperti Jakarta dengan tugu Mona, atau Padang dengan ikon mirip Big Ben London yaitu jam Gadang, Palembang terkenal dengan Jembatan Amperanya.

Palembang terbagi menjadi dua wilayah yang dipisahkan oleh Sungai Musi, yaitu di atas Illyrian dan di atas Ulu serta Jembatan Ampera yang menghubungkan kedua wilayah yang akhirnya menjadi simbol kota Pempek ini.

Jembatan Ampera yang memiliki panjang total 1.117 meter dan lebar 22 meter dan 63 meter. Pada masanya, jembatan ini tercatat sebagai jembatan terpanjang di Asia Tenggara.

Sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1906, rencana pembangunan Jembatan Ampera telah dibicarakan, namun rencana tersebut baru mulai bergerak pada tahun 1957 setelah disetujui oleh Presiden Republik Indonesia IR Soekarno. Pada tahun 1962, pembangunan jembatan itu akhirnya selesai dengan dana dari pemerintah Jepang untuk kompensasi Perang Dunia II bagi Indonesia. Pembangunan jembatan Ampera memakan waktu sekitar. 3 tahun, dimana pada tanggal 30 September 1965 Jembatan Ampera diresmikan oleh Letnan Jenderal Ahmad Yani.

Kapal Bermuatan 7.000 Ton Batu Bara Hantam Jembatan Ampera

Ingat jembatan ini tidak disebut Ampera? Sebelumnya, saat pertama kali dibangun, jembatan ini bernama Jembatan Bung Karno. Namun, saat terjadi kerusuhan gerakan Anti-Soekarno pada tahun 1966, nama jembatan tersebut akhirnya diubah menjadi Jembatan Ampera yang berarti Amanat Penderitaan Rakyat.

Sebelumnya, bagian tengah jembatan Ampera, yang memiliki berat total 944 ton, dapat diangkat dengan kecepatan sekitar. 10 meter per menit. Dua menara pengangkat yang dapat berdiri tegak setinggi 63 meter dan jarak antara kedua menara kurang lebih 75 meter serta dilengkapi dengan dua buah pendulum pemberat masing-masing sekitar 500 ton agar tiang-tiang yang lewat di bawah tidak tersangkut. di badan jembatan. Total waktu yang dibutuhkan untuk menaikkan bagian tengah jembatan adalah kira-kira. 30 menit.

Sejak tahun 1970 bagian tengah Jembatan Ampera tidak lagi naik turun karena tidak ada lagi kapal-kapal besar yang melewati Sungai Musi akibat lumpur, hingga akhirnya dua bandul pemberat dibongkar dan diturunkan untuk menaikkan dan menurunkan bagian tengah jembatan. 1990 karena takut kapan -waktu akan jatuh.

Sejak pertama kali dibangun, Jembatan Ampera telah mengalami beberapa kali renovasi. Warna jembatan juga mengalami tiga kali perubahan. Ketika Jembatan Ampere pertama kali dibangun, warnanya abu-abu, kemudian berubah menjadi kuning pada tahun 1992 dan akhirnya menjadi merah, yang telah ada sejak tahun 2002.

Hari Jadi Kota Palembang Dan Bandar Lampung Tanpa Perayaan

Berkaitan dengan Asian Games 2018 di Palembang tahun ini, Jembatan Ampera akan diperbaiki kembali. Pusat Penegakan Jalan Nasional V Palembang dikabarkan akan mengalokasikan dana sebesar Rp20 miliar. untuk memperbaiki icon kota Palembang ini. Perbaikan akan fokus pada rangka baja di ujung jembatan, pengecatan jembatan di area trotoar.Kota Palembang, Sumatera Selatan, tidak hanya terkenal dengan pempeknya! Kota ini memiliki banyak hal termasuk sejarah peradaban kerajaan Sri Wijaya. Salah satu ikon kota yang terletak di ujung selatan pulau Sumatera ini adalah Jembatan Ampera yang bahkan sudah dikenal di seluruh Indonesia. Jembatan Ampera menjadi simbol kota Palembang yang menjadi penghubung antara kawasan Sungai Musi. Jembatan Ampera menjadi kebanggaan warga Palembang karena selain sebagai penghubung antara daerah hulu dan hilir, jembatan ini juga turut berperan dalam kelancaran transportasi. Oleh karena itu, wajar jika jembatan ini sangat dibanggakan masyarakat Palembang.

Jembatan Ampera dibangun pada tahun 1962 dengan biaya konstruksi yang diambil dari rampasan perang Jepang. Hal ini juga terjadi dengan pembangunan Tugu Monas Jakarta. Jembatan ini awalnya bernama Jembatan Soekarno, presiden Indonesia saat itu. Penamaan tersebut dianggap sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa Presiden Soekarno saat itu. Namun, Presiden Soekarno kurang senang karena tidak ingin menimbulkan kecenderungan individu tertentu. Untuk itu, nama jembatan disamakan dengan semboyan bangsa Indonesia pada tahun 1960, yaitu Amanat Penderitaan Rakyat atau disingkat Ampera.

Jembatan Ampera sengaja dibangun oleh Bung Karno untuk memenuhi perjuangannya membangun jembatan di atas Sungai Musi. Sehingga sosoknya sangat dikagumi di daerah Palembang ini.

Jika melihat Jembatan Ampera saat ini, semakin menunjukkan perkembangannya, begitu juga dengan Kota Palembang, Sumatera Selatan. Jembatan Ampera saat ini sering digunakan untuk transportasi umum yang sangat andal. Bahkan setelah renovasi terakhir sekitar tahun 2007, Jembatan Ampera diperkirakan masih akan kokoh hingga 50 tahun ke depan. Setidaknya bisa melegakan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Palembang untuk menjaga bangunan dari tindakan yang merugikan. Perubahan tersebut sebenarnya sudah mulai terjadi sejak ujung jembatan tidak lagi menjadi sarang “permukiman” dan pemukiman kumuh. Pemerintah setempat sangat peduli dengan kebersihan sekitar

Malam Hari Di Jembatan Ampera Palembang Foto Stok 1824351116

Jembatan ampera kota palembang, hotel dekat jembatan ampera, penginapan dekat jembatan ampera palembang, jembatan ampera, hotel di dekat jembatan ampera, hotel murah di palembang dekat jembatan ampera, penginapan dekat jembatan ampera, hotel di palembang dekat jembatan ampera, hotel murah dekat jembatan ampera palembang, hotel dekat jembatan ampera palembang, penginapan murah di palembang dekat jembatan ampera, jembatan ampera palembang

Leave a Reply

Your email address will not be published.